SEDANG DALAM TAHAP UJI COBA!!!

Asal usul desa Baluk Kecamatan Karangrejo Kabupaten Magetan

Asal usul desa Baluk Kecamatan Karangrejo Kabupaten Magetan. Nama Baluk adalah nama salah satu desa di Magetan.

Dahulu Baluk wujudnya adalah hutan belantara dan belum ada penghuninya. Suatu ketika datanglah seorang yang namanya Patih Donowongso, atau Ki Ageng Donowongso, atau juga di kenal dengan sebutan Singo Menggolo, yaitu bangsawan dari Kadipaten Purwodadi.

Ki Ageng Donowongso keheranan terhadap tempat itu, kenapa tempat itu masih berwujud hutan dan belum ada yang mau menempatinya. Karena beliau berkeinginan untuk babat hutan tersebut untuk membuat pemukiman, dan segeralah beliau babat hutan untuk mewujutkannya.

Setelah hutan itu terbuka Ki Ageng Donowongso bersemedi untuk menemukan sebuat solusi dan jawaban, karena memang di keluarga Kadipaten Purwodadi sedang mengalami kekalutan yang sulit untuk di selesaikan. Adapun tempat semedinya adalah di tepi sungai di daerah yang baru di babat olehnya, tepatnya kira-kira diperbatasan antara desa Gebyok dan desa Baluk sekarang ini.

Akhirnya Ki Ageng Donowongso mendapatkan wisik, bahwa ia akan menemukan jalan penyelesaian apabila mau berbuat sesuatu di tepi sungai itu. Ki Ageng Donowongso merenung berhari-hari untuk memahami dan apa yang harus di lakukan di tepi sungai tersebut seperti petunjuk dalam semedinya.

Ki Ageng Donowongso berfikir lahan tersebut semula adalah berwujud hutan dan olehnya dibabat untuk pemukiman, namun ada yang kurang yaitu kebutuhan pokok yang di perlukan, kebutuhan itu adalah air yang di perlukan dalan kehidupan sehari-hari.

Akhirnya Ki Ageng donowongsopun membuat belik (kolam) kecil di tepi sungai tersebut untuk menampung air guna kebutuhan sehari-hari. Air di belik itu jernih sekali namun ada keanehan yaitu warnanya kebiru-biruan. Ki Ageng Donowongso tercengang keherananan. Pada saat memikirkan air tersebut datanglah seorang laki-laki tua menjumpainya. Seorang Lelaki tersebut menderita penyakit nafas yang sudah sangat parah, sehingga badannya kurus kering, dan berjalan kelihatan susah sekali. Lelaki tersebut minta di obati oleh Ki Ageng Donowongso. Karena mendengar keluhan dan permintaan lelaki tersebut Ki Ageng Donowongso juga bingung.

Ahirnya Ki Ageng Donowongso mendapat firasat dari Tuhan, dan di tolehnya belik yang airnya kebiru-biruan itu, dan selanjutnya memandang lelaki tua yang sakit itu seperti ada hubungan ghaib. Tanpa pikir panjang Ki Ageng Donowongso mengambil air belik itu dan diberikan kepada lelaki yang sakit tersebut untuk diminum. Ternyata sedikit demi sedikit air diminum, badan lelaki tua tersebut menjadi segar dan nafasnya juga menjadi lega. Lelaki tua yang sakit tersebut tinggal beberapa hari disitu dan meminum air belik tersebut dan akhirnya sembuh. Lelaki tua itupun kembali ketempat asalnya setelah mengucapkan terimakasih kepada Ki Ageng Donowongso.

Dengan kejadian itu maka tersebarlah beritanya kemana-mana (jw. keceluk ing ngendi-ngendi) bahwa daerah itu ada belik yang airnya dapat menyembuhkan orang sakit.Berita itupun tersebar kemana-mana  sehingga banyak orang yang menderita sakit datang untuk berobat. Bahkan keluarga Ki Ageng Donowongso sendiri yang tidak menderita sakit dan tengah terpencar-pencar berselisih karena di adu domba oleh Belanda juga datang ke tempat itu untuk menyaksikan kebenaran berita itu. Ketika sampai di situ dan tahu bahwa saudaranya sendirilah yang membuat belik itu, mereka berangkulan pertanda sangat terharu. Mereka telah lama bercerai berai untuk berselisih dan telah lama pula tidak berjumpa, sekarang semuanya telah menyadari bahwa perselisihan mereka karena di adu domba oleh Belanda, dan akhirnya bersatulah mereka seperti sedia kala.

Sementara air atau dalam bahasa jawa Banyu itu masih terus terkenal (jw.kaceluk) di mana-mana dan ternyata karena rahmat Tuhan air itu dapat di manfaatkan bagi kehidupan manusia, karena dapat menyembuhkan orang yang sakit, maka oleh para kerabat Ki Ageng Donowongso daerah tersebut di namai BALUK, yaitu mengambil dari dua kata BAnyu (air) yang kaceLUK (terkenal, tersohor). Kemudian sampai sekarang menjadi nama desa Baluk.

Adapun nama kepala desa yang pernah menjabat di desa Baluk adalah:
Singo Laksono ; putra Ki Ageng Donowongso (1835 - 1870)
Djojo Laksono (1870 - 1902)
Kromosongo (1902 - 1913)
Kromohardjo (1913 - 1921)
Ngali Mustam (1921 - 1933)
KH. Hasan Basri (1933 - 1957)
KH. Zaenuri (1957 - 1990)
Sardi Moh. Sofyan (1990 - Pengganti selanjutnya

0 komentar:

Posting Komentar