SEDANG DALAM TAHAP UJI COBA!!!

Asal usul Kali Gandong Magetan



Magetan asal usul kali ini akan berbagi tentang Asal usul Kali Gandong Magetan. Kali Gandong ini adalah sungai yang melintasi tengah kota Magetan, dan nama Kali (sungai) Gandong ini sudah familiar di telinga warga Magetan, namun cerita asal usul nama sungai ini dinamakan dengan Kali Gandong tidak semua warga Magetan itu mengetahuinya.

Cerita penamaan sungai ini berawal dari ketika Kyai Mageti bersemedi di suatu tempat yang asing dan suasananya hening di dalam hutan, yang saat ini di kenal dengan Desa Magetan. Belum lama beliau bersemedi, beliau beliau terganggu dengan suasana gemuruh yang berasal dari arah barat. Adapun suara itu adalah suara air bah yang mengalir dengan deras seperti air bah yang datang di waktu musim penghujan, padahal waktu itu adalah musim kemarau, dan ternyata air bah itu adalah air yang di giring oleh orang sakti yang bernama Djoko Segondang. 

Djoko Segondang dengan bangganya berjalan dengan diikuti oleh air bah yang melimpah-limpah itu tiba-tiba berhenti sebelum menerjang tempat bersemedinya Kyai Mageti, dikarenakan Djoko Segondang tidak bisa melihat jalan didepannya. Djoko Segondang tidak bisa menentukan arah kemana ia harus mengarahkan air air bah tersebut, karena pandangannya tersa gelap gulita, iapun berguman "Ini pasti ada orang sakti yang sedang bertapa!".

Karena merasa ada orang sakti yang sedang bertapa di depannya, maka Djoko segundang mengucapkan salam "Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh". Anehnya setelah Djoko Segondang mengucapkan salam tiga kali, penglihatannya semakin terang dan cuaca yang gelap gulita itupun semakin lama semakin terang juga. Djoko segondang memandang kedepan tampak samar-samar ada orang yang duduk bersemedi.

Setelah merasa yakin bahwa yang bersemedi didepan itu adalah manusia, maka Djoko Segondangpun dengan penuh kesopanan membangunkan orang yang bersemedi itu yang tidak lain adalah Kyai Mageti. Setelah Kyai Mageti itu menghentikan semedinya sejenak , maka keduanyapun berbincang-bincang dengan akrabnya dan saling menghormati.

Djoko Segondang mengaku berasal dari dukuh Segalih desa Gonggang, yang letaknya di sebelah selatan Plaosan. Djoko Segondang memberitahukan kepada Kyai Mageti bahwa ia sebenarnya bertujuan untuk menuju ke Madiun untuk bertemu dengan Bapaknya.

Mendengar penuturan dari Djoko Segondang itu, Kyai Mageti termenung sejenak dan akhirnya berkata: "Apabila ki sanak akan berjalan terus menuju arah timur, pasti tidak kuat!", maksud dari Kyai Mageti adalah agar Djoko Segondang tidak menerjang tempat semedinya.

Kemudian Kyai Mageti melanjutkan perkataanya:" Agar perjalanan ki sanak tidak terganggu dan kuat, ki sanak harus berbelok ke utara sedikit, dan selanjurnya membelok ke timur!"

Mendengar perkataan Kyai Mageti tersebut, Djoko Segondang menurutinya, dan karena peristiwa itu Djoko Segondang berkata: " Besuk kalau ada ramainya jaman, sungai yang saya belokkan ini saya beri nama Lepen Gandong!". Sedangkan kedung tempat Kyai Mageti bebincang bincang dengan Djoko Segondang di namakan Kedung Salam, karena Djoko Segondang memberikan salam tiga kali kepada Kyai Mageti.

Asal mula nama desa Botok Magetan

Asal mula nama desa Botok Magetan. Botok adalah salah satu nama desa di Kecamatan Sukomoro Magetan, yang di batasi oleh desa:
  1. Sebelah Barat:  Desa Sidowayah
  2. Sebelah Timur : Desa Taji
  3. Sebelah Selatan: Desa Truneng
  4. Sebelah Utara: Desa Ginuk.


Desa Botok awal mulanya terdiri dari 2 dukuhan, yaitu dukuh Botok Kulon dan dukuh Botok Wetan. Karena kecilnya wilayah ini, maka desa botok di perluas dan di tambah dukuhannya, yaitu dukuh Selo dan dukuh Sembung. Maka desa Botok akhirnya menjadi 4 dukuhan yaitu:
  1. Dukuh Botok Kulon
  2. Dukuh Botok Wetan
  3. Dukuh Selo
  4. Dukuh Sembung
Selanjutnya atas musyawarah masyarakat dari ke empat dukuhan, maka nama desa tersebut dinamakan desa Sembung. Nama sembung tersebut diambil dari desa yang menjadi luas karena disambung wilayahnya, yaitu disambung dengan dukuh Selo dan dukuh Sembung.

Setelah perkembangan jaman desa Sembung itu berubah menjadi desa botok. Mengapa desa Sembung itu berubah menjadi desa Botok? Adapun cerita tentang terjadinya desa Botok itu adalah sebagai berikut:

Pada jaman belanda dimana daerah ini adalah masih berwujud hutan rimba, ketika itu datanglah seorang Kyai yang bernama Kyai Ageng Rendeng. Menurut cerita Kyai Ageng Rendeng ini berasal dari Jawa Tengah. Namun belum lama Kyai Ageng Rendeng ini bermukim dan menjadi pemimpin desa di tempat iniakhirnya ia meninggal dunia dan di makamkan di desa Kincang Wetan, tepatnya di selatan Taman Ria Maospati.

Kyai Ageng Rendeng meninggalkan beberapa putera yaitu diantaranya bernama Jo Saliyo. Nama Jo Saliyo ini adalah nama samaran dan bukan nama asli dikarenakan Jo Saliyo ini adalah seorang buron kompeni Belanda. Jo Saliyo ini pada ahirnya menggantikan jabatan ayahnya yaitu menjadi pemimpin desa. Namun pada akhirnya penyamaran Jo Saliyo ini diketahui juga oleh kompeni Belanda. Karena penyamarannya di ketahui oleh kompeni Belanda, maka Jo Saliyo pindah tempat ke arah utara yaitu desa Ginuk, agar tidak tertangkap oleh Belanda.

Karena kepergian Jo Saliyo tersebut, maka kedudukan pemimpin desa Sembung di ganti oleh Mbah So Wirono. Mbah Sowirono kono berasal dari dukuh Juron Desa Sumberdukun Kecamatan Magetan. Yang juga konon Mbah Sowirono tersebut sebelum tinggal di di dukuh Juron ia berasal dari Yogyakarta.

Mbah Sowirono mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Suwuh. Suwuh ini  setelah dewasa di kawinkan dengan anaknya Mbah Rono Menggolo yang bernama So Menggolo dari dukuh Turus desa Baron Kecamatan Magetan, yang menurut cerita nantinya akan mempunyai anak lai-laki yang bernama Gunek.

Pada suatu ketika terjadilah sebuah kerusuhan, yaitu desa Sembung kedatangan kawanan penjahat, perampok dari Sragen Jawa tengah. Kawanan penjahat ini benar-benar membuat resah masyarakat desa Sembung, karena tiap malam terjadi perampokan secara besar-besaran. Kejadian perampokan besar-besaran di tiap malam ini  menjadi terkenal dan menjadi sebutab buah bibir yaitu" Harta benda orang Sembung menjadi BOTOKAN (jarahan) oleh penjahat!" 

Kata-kata ini menjadi populer dan terkenal di masyarakan Sembung dan tetangga desa Sembung, maka akhirnya desa Sembung menjadi lebih dikenal dengan desa Botok, yang pada akhirnya menjadikan nama desanya menjadi desa Botok sampai sekarang.

Setelah Gunek dewasa, ia di jadikan kepala desa Botok, dan setelah jabatan kepala desanya berahir ia digantikan oleh Mbah Diran, begitu selanjutnya. 

Adapun yang pernah menjabat kepala desa Botok adalah:
  1. Kyai Ageng Rendeng
  2. Jo Saliyo
  3. Mbah Sowirno
  4. Gunek
  5. Mbah Diran
  6. Munasir
  7. Gatot Subroto
  8. Pengganti semalnjutnya

Demikian asal mula nama desa Botok Magetan, semoga anak cucu kita bisa mengambil hikmah dan mampu, serta untuk  membangun desanya menjadi desa yang makmur dan sejahtera.

Asal mula penamaan desa Nglopang Magetan

Desa Nglopang adalah salah satu nama desa di Magetan, tepatnya di Kecamatan Parang Kabupaten Magetan. Desa Nglopang ini adalah satu desa di wilayah kabupaten Magetanyang terletah paling selatan dan menjadi batas antara kabupaten Magetan dengan Kabupaten Ponorogo.

Adapun desa Nglopang ini wilayahnya  dibatasi oleh:
Sebelah Barat: Desa Sayutan
Sebela Timur: Desa Lembeyan
Sebelah Utara: Desa Mategal
Sebelah Selatan: Wilayah Ponorogo

Desa Nglopang ini terletak di lereng gunun yaitu gunung Bungkuk. Gunung bungkuk adalah salah satu nama gunung yang ada di wilayah kecamatan Parang. Di sekitar lereng gunung Bungkuk ini banyak terdapat tumbuhan Jambu mente, yaitu pohon yang buahnya menghasilkan kacang mete atau mede, oleh karena itu desa Nglopang ini oleh pemerintah Kabupaten magetan di jadikan tempat produksi makanan yang terbuat dari bahan bakunya jambu mente, yang di kemas sedemikian rupa sehingga layak untuk di pasarkan ke domestik ataupun ke mancanegara.

Menurut cerita pada jaman dahulu di daerah Nglopang ini berbentuk hutan jati, dan pohon jati tersebut tumbuh liar. di dalam Hutan jati tersebut banyak terdapat banyak binatang-binatang buasnya, seperti babi hutan, kera, anjing kijang, dan harimau, sehingga orang takut untuk memasukinya.

Ketika itu datanglah seorangpengembara dari daerah Mataram Jawa Tengah, yang bernama Kreto Semito. Kedatangan Kreto Semito mengembara sampai ke daerah hutan jati itu adalah disebabkan ketidak sepemahaman dengan tindakan keraton Mataram yang saat itu memutuskan untuk bekerja sama dengan penjajah Belanda.

Kreto Semito ini telah berhari-hari berjalan untuk mengadakan perjalanan pengembaraannya hingga sampai di hutan jati ini. Karena mengadakan pengembaraan yang sangat jauh yaitu dari Mataram Jawa Tengah menuju ke daerah hutan jati yang masuk wilayah Jawatimur tentunya Kreto Semito merasa sangat lelah.

Pada saat merasa kelelahan tersebut Kreto Semito berhenti karena melihat sebuah pohon yang berbeda dari pohon yang tumbuh kebanyakan di daerah itu, yaitu  pohon yang disebut dengan Pohon Elo. Pohon elo tersebut pohonnya besar, daunnyapun juga besar, dahanya  (jw.pang-pange) panjang dan lebar ke segala penjuru, membuat pohon itu menjadi rimbun, indah dan membuat suasanya di sekitarnya menjadi sejuk dan nyaman.

Kreto Semito pun berteduh di bawah bohon Elo yang mempunyai dahan besar rindang tersebut. Karena kerindangan pohon yang membuat sejuk dan nyaman, Kreto Semitopun menjadi betah dan krasan. Akhirnya iapun memutuskan untuk tinggal di tempat itu, dan mulai membabad hutan untuk membuka lahan dan tempat tinggal. Setelah tempat itu tertata  dan rumah untuk bermukim juga sudah di buat, maka Kerto Semito menamai tempat itu LOPANG. Kata lopan ini mengambil makna dari pohon LO yang banyak Pang-Pangnya (dahan-dahannya). dan dalam perkembangan jaman kata Lopang ini berubah menjadi NGLOPANG dan menjadilah desa Nglopang dan menjadilah desa Nglopang yang sekarang ini.

Demikianlah asal usul desa Nglopang Magetan

Asal mula Desa Soco Magetan

Soco adalah merupakan nama sebuah desa di Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan. Menurut catatan sejarah desa Soco adalah merupakan tempat yang digunakan oleh pemberontak PKI Moeso tahun 1948 untuk membunuh orang-orang yang dianggap menghalangi program PKI. Berpuluh-puluh orang yang tak berdosa dibunuh secara keji dan di luar batas kemanusiaan, yaitu di siksa didalam kereta lalu dimasukkan ke dalam sumur. Untuk mengenang para pahlawan yang gugur di tempat ini Pemerintah Daerah membangun monumen di dua tempat tersebut, yang di namakan monumen Soco I dan monumen Soco II.

Sekarang ini monumen Soco menjadi salah satu obyek wisata sejarah di Magetan, yaitu monumen untuk memperingati pemberotakan berdarah yaitu pemberontakan PKI pada tahun 1948, yang ditandai dengan dibangunnya monumen berupa gerbong Kereta Api "Kertopati".

Menurut catatan sejarah korbannya yang tewas dalam peristiwa tersebut berjumlah 108 orang, mereka terlebih dahulu di angkut dengan kereta Kertopati dan di siksa di dalamnya sampai mati , baru kemudian di masukkan ke dalam sumur Soco. Adapun monumen Soco ini dibuat tepat di atas sumur bekas pembuangan mayat korban-korban keganasan PKI tersebut, dan Kereta Kertopati juga di jadikan monumen untuk mengenang keganasannya PKI.

Menurut cerita orang tua-tua di desa Soco ini dahulunya berwujud hutan yang banyak di tumbuhi pohon bambu-bambu yang sangat besar. Karena sangking banyaknya pohon bambu yang tumbuh di daerah itu, orang orang menyebut daerah tersebut dengan hutan bambu.

Konon pada suatu ketika datanglah beberapa orang pendatang baru yang dipimpin oleh seorang yang disebut SINGOSUTO. Untuk penjelasan pendatang baru tersebut kami tidak menemukan sumber yang pasti mengenai dari mana datangnya mereka.

Menurut cerita di hutan bambu ini Singosuto bersama pengikutnya mulai membabad hutan untuk memperoleh lahan dan tempat untuk berteduh. Mereka membabad hutang dengan pantang menyerah, hampir siang dan malam mereka tak henti-hentinya membabad hutan, dengan harapan mereka dapat segera memperoleh lahan dan tempat berteduh tercapai.

Dari sekian pohon bambu yang di tebangi, mereka banyak menemukan pohon bambu yang cabangnya saling bertemu yaitu dua cabang kanan-kiri tumbuh dalam satu ruas (jw. Soco/pethuk). Demikian banyak soco-soco yang di temukan, maka setelah lahan itu telah terbuka dan berwujud pemukiman, penghuni setempat sepakat menamakan pemukimannya itu dengan nama SOCO, yang tentunya di pimpin oleh Singosuto. Nama SOCO ini dipakai sebagai nama desa yaitu desa SOCO Magetan sampai sekarang.

Adapun yang pernah menjadi kepala desa Soco adalah:
  1. Singosuto
  2. Karyomenggolo
  3. Dulwono
  4. Pengganti seterusnya

Asal mula nama desa Ngaglik Magetan

Konon  dahulu kala ada sebuah hutan rimba yang belum ada satupun manusia yang menghuninya. Pada suatu ketika datanglah dua orang suami dan istrei yang bernama Ki Brangti dan Nyi Brangti. Kedua orang ini membunyai keinginan untuk mencari tempat untuk bermukim.

Setibanya di hutan yang lebat itu, maka mulailah Ki Brangti membabad hutan yang lebat tersebut. Karena Ki Brangti membabad hutan itu bukan hanya untuk membuat tempat bermukim saja, tetapi juga untuk membuat lahan untuk pertanian sebagai mata pencarian,oleh karena itu babad hutan ini harus luas.

Memang membabad hutan itu tidaklah mudah apalagi pohon-pohon di hutan itu sangatlah besar, tinggi-tinggi dan rimbun serta padat. Pada saat Ki Brangti membabad hutan tersebut ia terkejut karena diantara pohon-pohon besar itu juga di temukan pohon yang tidak subur, kurus daunnya dan tidak kokoh seperti pohon yang lainnya. Adapun pohon yang kurus dan tidak subur itu tidak lain adalah pohon Nangka.

Pohon Nangka itu sangking kurusnya menjadikan pohon itu mudah untuk di goyang-goyang (jw. Oglak Aglik). Namun anehnya walaupun pohon nangka itu tampak kurus buahnya sangatlah banyak. Melihat pohon nangka itu berbuah sangat banyak, maka Ki Brangti memetik buahnya dan membawanya utnuk di berikan kepada isterinya.

Sampai dirumah Ki Brangti memberikan buah nangka tersebut kepada istrinya, ternyata buah nangka tersebut sangatlah manis dan enak rasanya. Nyi Brangti merasa senang karena suaminya membawakan oleh-oleh buah nangka yang manis rasanya, dan iapun karena penasaran menanyakan kepada suaminya dari mana asalnya buah nangka tersebut.

Ki Brangti menjelaskan bahwa buah nangka itu berasal dari hutang yang dibabadnya, dan Ki Brangti juga menjelaskan bahwa ia tak menyangka kalau buah nangka tersebut enak rasanya, dikarenakan pasalnya pohon dari buah nangka tersebut kurus, kering dan tidak sehat dan tidak kokoh pohonnya alias oglak-aglik.

Mendengar penjelasan dari suaminya Nyi Brangti menjadi tambah semakin penasaran, maka keesokan harinya Nyi Brangti meminta suaminya untuk menunjukkan tempat dimana pohon nangka tersebut tumbuh. Keesokan harinya Ki Brangti mengajak istrinya untuk melihat tempat dimana tumbuh pohon nangka yang ia makan kemarin.

Sesampainya di tempat di mana pohon nangka itu tumbuh Nyi Brangti merasa heran karena pohon nangka itu kelihatan kurus dan tidak terawat, sedangkan di sekelilingnya tumbuh pohon-pohon yang kelihatan besar sehingga suasana di sekelilingnya tersa sejuk dan nyaman.

Karena merasa senang berada di tempat tersebut akhirnya Nyi Brangti meminta suaminya untuk membuat rumah di tempat tersebut untuk di jadikan tempat tinggalnya. Setelah rumah itu selesai dibuat, maka Ki Brangti menamai tempat tersebut dengan nama Oglak Aglik karena di tempat itu terdapat pohon nangka yang Oglak aglik alias tidak kokoh berdirinya. Nama Oglak aglik itu pada akhirnya berubah lafal menjadi Ngaglik serta menjadi nama desa Ngaglik sekarang ini.

Asal mula penamaan desa Tambran Magetan




Di gegap gempitanya Pilkada Magetan tahun 2013 ini ane masih sempatkan untuk memposting Asal mula penamaan desa Tambran. Desa Tambran adalah nama sebuah dukuhan dan  sekaligus menjadi  nama desa di Magetan. Desa Tambran termasuk di wilayah dari kecamatan Magetan kabupaten Magetan.

Desa Tambran dahulunya adalah merupakan  tanah perumahan kabupaten Magetan yang pertama kali, yaitu pada masa Bupati Yosonegoro tahun1675 M. Adapun bupati Yosonegoro ini adalah salah seorang kerabat keraton Mataram, yang waktu kecilnya lebih di kenal dengan Basah Bibit atau Basah Gondokusumo. Bupati Yosonegoro ini di wisuda menjadi bupati Magetan oleh kakeknya yang bernama Basah Suryaningrat pada tahun 1675 M, dan setelah beliau wafatmakamkan di makam Setono Gedong yang berlokasi di Tambran  Magetan.

Menurut sumber yang di peroleh asal mula penamaan desa Tambran ini bersamaan dengan penamaan desa-desa di sekeliling kabupaten Magetan, yaitu seperti desa Kebon Agung. Dan penamaan desa-desa itu awalnya sebenarnya adalah berkaitan dengan kebutuhan dari rumah tangga kabupaten Magetan yang di tata oleh Bupati Yosonegoro.

Waktu itu keluarga kabupaten Magetan memerlukan tempat untuk menanam berkebun yang luas, maka bupati Yosonegoro memerintahkan abdi dalem unutk membuat kebun tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari wargo dalem kabupaten Magetan. Tempat tersebut dinamakan oleh bupati Yosonegoro dengan nama Kebondalem atau Kebonagung (jw. Kebun yang luasa dan besar) dan akhirnya juga menjadi nama desa Kebonagung sampai sekarang.

Selanjutnya keluarga kabupaten juga memerlukan sebuah  tempat tinggal untuk putrid-putri dalem Kabupaten, maka bupati Yosonegoro membuat tempat yang namanya GUSTEN. Nama GUSTEN ini berasal dari Gusti nganten, dan Gusti Nganten ini adalah sebutan dari para Putri-putri dalem Kabupaten. Adapun tempat GUSTEN ini terletak di desa Kebonagung sebelah timur.

Bupati Yosonegoro waktu itu juga berkenan membuat kolam ikan, yang tentunya diperuntukkan untuk tempat memeliharan ikan oleh bupati Yosonegoro. Beliau memilih tempat kolam ikan tersebut di sebelah timur  Dalem Kabupaten Magetan. Maka mulailah bupati Yosonegoro membuat kolam-kolam ikan di tempat tersebut, sedangkan ikan yang dipelihara oleh bupati Yosonegoro adalah ikan Tombro. Akhirnya oleh bupati Yosonegoro tempat memelihara ikan tersebut di namakanTAMBRAN, dan menjadi nama desa Tambran hingga sekarang.

Dan di desa Tambran ini juga bupati Yosonegoro di makamkan, yaitu di makam Setono Gedong. Makam bupati Yosonegoro ini biasanya di ziarahi oleh bupati-bupati magetan dalam rangka Hari jadi kabupaten Magetan.
Adapun yang pernah menjabat  kepala desa di desa Tambran adalah:
  1. Lurah Pendek 
  2.  Ranudimedjo 
  3.  Sastrowiryo (1925-1947) 
  4.  Kukuh (1947-1948) 
  5.  Djajadi (1948-1949) 
  6.  Suratman (1949-1965) 
  7.  Sumarlan (1965-1968) 
  8.  Mulyorahardjo (pjs) (1968-1987) 
  9.  Pagut (1987-1989) 
  10.  Bambang. S (1989-1996) 
  11.  Kanip (1996-1998) 
  12. Triatmadi (1998-1999) 
  13.  Marsono (1999 - Pengganti selanjutnya)

Asal usul Desa Sukomoro Magetan

Menurut cerita sekitar tahun 1697 yang lalu datanglah dua orang lelaki yang bernama Anti dan Gati. Dua orang lelaki Anti dan Gati ini adalah buronan Kompeni Belanda, dan mereka diburu oleh Belanda karena Anti dan Gati ini terus menerus mengobarkan pemberontakan serta mengancam kedudukan Belanda di Jawa Tengah.


Menurut cerita Anti dan Gati tersebut berasal dari daerah Sukowati Jawa Tengah, dan karena mereka menganggap wilayah Jawa Timurlah yang tepat untuk pelarian mereka untuk bersembunyi dari kejaran Kompeni Belanda.

Setelah lama keduanya melakukan perjalanan di dalam pelarian, mereka memutuskan untuk tinggal menetap di suatu tempat yang dianggap aman dan nyaman oleh mereka. Akhirnya mereka mendapatkan tempat yang aman dan nyaman yaitu sebuah hutan, yang sekarang lebih di kenal dengan Desa Sukomoro.

Mulailah di hutan yang dianggap aman tersebut Anti dan Gati mulai membabad hutan untuk pemukiman dan untuk lahan pertanian. Mereka pertama-tama membuat gubuk sederhana untuk dijadikan tempat tinggal dan berteduh dari terpaan angin, dan hujan, serta teriknya matahari.

Dikisahkan pada suatu hari mereka mulai membajak lahan yang mulanya hutan tersebut untuk membuka lahan pertanian. Pada saat membajak hutan tersebut tiba-tiba tanah yang mereka bajak itu keluar airn yang sangat besar, dan karena saking besarnya membentuk aliran sungai, yang saat sekarang aliran sungai itu disebut lebih dikenal dengan Sungai Gawe.

Sungai Gawe tersebut pada akhirnya membelah lahan yang di tempat tinggali oleh Anti dan Gati sehingga membuat tempat mereka terpisah karena dibatasi oleh sungai Gawe tersebut. Karena tanah tempat tinggal mereka terbelah (jw. Kesingget) maka mereka menamai tempat tinggalnya dengan nama Desa Singget. Anti dan Gati pun sampai sekarang dianggap danyang desa Singget. Adapun desa Singget terbagi menjadi beberapa dukuhan, yaitu:
  1. Dukuh Jetis
  2. Dukuh Puntuk Wijil
  3. Dukuh Kandangan
  4. Dukuh Krajan
  5. Dukuh Boncong
  6. Dukuh Randu Agung
  7. Dukuh Robanan
  8. Dukuh Kidul Kali
  9. Dukuh Sukomoro
Selanjutnya desa Singget ini lebih dikenal dengan desa Sukomoro sejak Indonesia merdeka dan terlepas dari penjajahan Belanda pada tahun 1945, namun nama Sukomoro ini belum di akui oleh Pemerintahan Daerah magetan waktu itu.

Pada Tahun 1968 desa Singget mengikuti lomba desa yang di laksanakan oleh Pemerintahan Kabupaten Magetan, dan pada saat itulah desa Singget resmi berubah namanya menjadi Desa Sukomoro dan diresmikan oleh Bupati kepala Daerah Magetan waktu itu.

Adapun Kepala Desa Sukomoro yang pernah menjabat antara lain adalah:
  1. Mbah Kejeng (Ki Demang)
  2. Mbah Ngalim
  3. Mbah Cokro
  4. Mbah Kasi
  5. Mbah Kartosentono
  6. Suparman
  7. M. Djazuli
  8. dan Kepala Desa seterusnya